Archive for » October, 2008 «

Sunday, October 12th, 2008 | Author: suhadi

PELESTARIAN DESA TRADISIONAL DI NIAS

Latar belakang:

BRR telah banyak melakukan pembangunan dan perbaikan jalan, jembatan, irigasi, air bersih, listrik, sekolah, puskesmas dll  Begitu banyak pembangunan dikerjakan sehinga ada pertanyaan apakah nanti Pemerintah Daerah dapat melajutkannya bahkan ada juga kekhawatiran apakah dalam masa Pasca BRR nanti ada anggaran dan personil untuk memelihara berbagai prasarana dans arana yang sudah dibangun itu.

BRR juga telah membangun dan memperbaiki banyak rumah warga yang hancur atau rusak akibat gempa dan tsunami. Telah banyak dibangun rumah standar di berbagai lokasi.. Di desa-desa umum, diluar desa tradisional mungkin tidak begitu banyak masalah tetapi di desa tradisional yang mempunyai ciri khas, pembangunan rumah perlu lebih berhati-hati dan menyesuaikan dengan pola lingkungan tradisional yang unik, langka, dan harus dilestarikan.

Bangunan dan desa tradisional Nias merupakan aset budaya yang sangat berharga, yang tidak ada duanya di dunia ini. Keindahan estetik, latar belakang filosofi, serta kemampuan mengatur struktur desa menjadi lingkungan utuh yang impresif sunguh mengagumkan. Disamping menjadi kebanggaan warga Nias dan Indonesia pada umumnya, pusaka budaya ini sangat menarik wisatawan dan masyarakat pemerhati budaya dunia. Sayang sekali jika aset budaya ini hilang atau rusak

 

Omo Sebua di Bawomataluo
Omo Sebua di Bawomataluo

Di Nias Selatan hanya tertinggal 11 desa tradisional, dan hanya ada 4 Omo Sebua (rumah raja) yang masih berdiri. Lainnya sudah rusak, hancur, terbakar, atau hilang karena sebab lainnya. Di Nias Utara juga hanya tersisa sedikit desa tradisional. Jika penyusutan ini terus berlangsung, maka pada suatu ketika Nias akan tidak mempunyai peninggalan sejarah untuk dikenang dan dibanggakan. Tanpa disadari sebetulnya proses penyusutan itu terus berlangsung setiap hari, termasuk akibat program-program resmi.

Ada beberapa kelompok masalah yang perlu mendapat perhatian:

1.            Kerusakan pada Omo Sebua, umumnya karena usia lanjut dan kurang maintenance

2.            Kerusakan pada rumah warga yang masih asli

3.            Rumah warga yang sudah berubah atap, fasad, susunan ruang, atau strukturnya

4.            Perubahan fisik dan penggunaan Ewali (plasa terbuka yang merupakan poros desa).

5.            Perubahan lingkugan disekitar desa yang akan mempengaruhi keberlanjutan desa.

 

Omo Sebua di Onohondro
Omo Sebua di Onohondro

Beberapa Omo Sebua membutuhkan rehabilitasi total karena sudah sangat tua dan beberapa bagian sudah lapuk, antara lain karena air yang merembes masuk akibat atap bocor yang lama tidak diperbaiki. Demikian juga kelembaban pada kaki-kaki (balok bawah) yang seharusnya kering. Rehabilitasi total Omo Sebua membutuhkan anggaran besar dan penanganan proses yang cermat sesuai dengan kaidah konservasi. Diperlukan peran aktif pemerintah dan bantuan berbagai lembaga internasional.

 

rumah warga di bawomataluo

rumah warga di bawomataluo

Kerusakan pada rumah warga yang masih asli ada yang parah dan ada yang ringan, tetapi umumnya dapat ditangani dengan sederhana oleh tukang ahli yang ada di desa tersebut. BRR diharapkan dapat membantu beberapa perbaikan. Disamping membantu perlu dikembangkan keswadayaan dan percaya diri berbasis pada apresiasi budaya lokal. Jangan sampai mengembangkan pola ketergantungan ang selalu mengharapkan bantuan luar. Pembangunan yang lalu banyak menghasilkan pola ketergantungan.

 

rumah beton di sela sela rumah tradisional

rumah beton di sela sela rumah tradisional

Pembangunan rumah baru di dalam lingkungan desa tradisional seharusnya sangat berhati-hati menyesuaikan pada harmoni lingkungan tradisional itu.. Banyak pembangunan baru yang memaksakan standar umum yang sama sekali tidak memperhatikan keserasian dan kelestarian desa tradisional. Sebetulnya dapat dilakukan upaya pendekatan yang lebih ramah lingkungan tradisional. Tetapi upaya ini diabaikan sekedar supaya cepat dan mudah.

 

jemuran dan antena parabola di Ewali

jemuran dan antena parabola di Ewali

Ewali atau plasa utama, ruang terbuka yang merupakan poros utama desa disamping merupakan “pengikat” jajaran rumah warga, juga sangat berperan sebagai ruang umum (public space) yang sakral dimana berlangsung berbagai upacara adat. Sekarang Ewali kehilangan arti dan perannya. Ia lebih berfungsi sebagai tempat menjemur pakaian,  kakao, kelapa, daun nilam, tempat antena parabola, tiang listrik dan kegiatan lain yang tidak terkontrol. Warga perlu menyepakati tatacara penggunaa Ewali 

 

lingungan hutan, ladang, dan sungai

lingungan hutan, ladang, dan sungai

Dahulu desa tradisional didukung oleh lingkungan disekitarnya berupa hutan dan lahan pertainian yang seimbang sehingga air, bahan makanan, kayu bangunan, daun sagu utnuk atap, dan keberlanjutan desa dapat terjamin. Sekarang telah berlangsung banyak perubahan dimana peraturan formal belum dapat menjangkau ke daerah pedalaman sementara peraturan adat/tradisi sudah banyak dilupakan dan ditinggalkan. Perlu pendampingan untuk penguatan aturan adat dan aturan formal secara optimal.

 

kehidupan adat di desa tradisional

kehidupan adat di desa tradisional

Berbagai upaya tersebut perlu dilandasi oleh pemahaman dan apresiasi masyarakat pada sejarah dan budayanya. Karena itu perbaikan fisik sebaiknya didahului dengan pendampingan untuk menemukan kembali identitas diri dan kelompok, agar upaya perbaikan itu mempunyai arti dan bermanfaat dalam kehidupannya.Perwujudan fisik dan keberlanjutannya akan sangat ditentukan oleh apakah ia berakar pada kehidupan dan budaya masyarakatnya.

 

 

Category: Uncategorized  | Tags: ,  | 3 Comments
Friday, October 10th, 2008 | Author: suhadi

Pada dasarnya masyarakat ingin mengembangkan kehidupan yang sejahtera dimana terpenuhi kebutuhan fisik, ekonomi, dan sosial budaya dengan baik.

Kota diharapkan dapat menyediakan prasarana dan sarana pemenuhan kebutuhan fisik seperti shelter yang layak dan harmonis / jalan dan transportasi / sanitasi, lingkungan yang asri, sehat tanpa polusi / terhindar bencana banjir, tanah longsor, kebakaran, gempabumi dll

Kota diharapkan mengembangkan sistem ekonomi yang adil dimana masyarakat mempunyai kesempatan kerja dan penghasilan yang layak,  dimana sumber daya dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, dimana sistem ekstraksi,pengolahan,industri, jasa dan perdagangan, perbankan, asuransi dll berkembang dengan baik dan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat.

Kota diharapkan memungkinkan berkembangnya kehidupan sosial budaya yang dinamis, semarak, dan berkelanjutan, dimana masyarakat mengembangkan interaksi yang rukun dan santun, bebas konflik, bebas kriminalitas, bebas tekanan dan kekerasan / dimana sistem hukum dan perlindungan masyarakat berkembang dengann efektif  / dimana masyarakat dapat mengembangkan kehidupan yang berkualitas, yang peka terhadap nilai luhur kemanusiaan yang beradab / dimana dengan sadar dikembangkan kemampuan ekspresi dan apresiasi budaya diseluruh lapisan masyarakat / dimana berbagai perkembangan dan perubahan dalam dinamika kehidupan masyarakat dapat berlangsung dengan mulus tanpa gejolak dan gegar budaya.

 Ketiga pemenuhan kebutuhan tersebut harus berjalan seimbang dan serasi. Seimbang dalam alokasi sumberdaya yang adil. Serasi dalam keterkaitan dampak dan proses serta koordinasi lintas sektor yang efektif.

Saat ini ketiga pemenuhan kebutuhan itu tidak seimbang alokasi sumber dayanya dan sangat terkotak-kotak dimana bidang satu-dua-tiga tidak banyak berkomunikasi dan bersinergi

Bidang fisik biasanya sangat fokus kepada aspek fisik dan engineering. Ada beberapa perhatian bidang fisik pada capaian bidang ekonomi, tetapi sedikit sekali bidang fisik memasukkan pertimbangan dan capaian bidang sosial budaya.

Bidang ekonomi sering mengabaikan dampak fisik lingkungan dan sering lupa pada potensi dan dampak budaya. Bidang budaya sering asyik dengan budayanya dan melupakan dukungan fisik dan ekonomi yang harus dirangkulnya.

 Apakah tata ruang dan perkembangan kota kita sudah mengintegrasikan perkembangan ekonomi dan sosial budaya dalam perencanaan dan pembangunannya? Kelayakan dan dampak ekonomi biasanya sudah masuk dalam perhitungannya, meskipun kadang-kadang dilupakan juga. Keterkaitan kebijakan fisik dan ekonomi dalam arti luas tampaknya belum banyak tergarap.

Aspek budaya kadang-kadang disebut dalam perencanaan fisik tata ruang tetapi masuknya secara konkrit dalam tujuan, kriteria, mekanisme,dan proses penataan ruang tampaknya belum terjadi. Mungkinkah kita bersama-sama mencoba memikirkan pengembangan “Kota Berwawasan Budaya”? Mungkinkah kita secara konkrit membawa Budaya masuk kedalam sistem penataan ruang kita?

Mudah-mudahan ini tidak dilihat sebagai keinginan intervensi dan campur tangan Budaya untuk sekedar ikutan masuk dalam ranah planning. Kita harus menyadari bahwa manusia dan budayanya merupakan kekuatan dasar yang mendukung berbagai bidang pembangunan. Disini kita berbicara mengenai budaya yang mencakup totalitas rasa, cipta, karsa dan karya manusia.

Kita harus menyadari bahwa meskipun tersedia sumber daya alam dan potensi ekonomi yang melimpah, itu semua tidak berarti jika kita tidak mempunyai sumberdaya manusia yang berkualitas.Manusia yang berkualitas tidak hanya berpendidikan tetapi juga peka dan bijak didalam sistem budaya yang harmonis. Totalitas budaya masyarakat akan sangat menentukan.

 Bagaimana gambaran kota yang berwawasan budaya?

Kota yang berwawasan budaya:

  • memperhatikan karakter budaya masyarakatnya sebagai dasar penataan ruang dan perencanaan prasarana dan sarana kota;
  • melestarikan aset sejarah dan budaya kota itu serta menampilkannya dengan baik, terintegrasi dengan kehidupan nyata masyarakatnya;
  • menghormati keragaman budaya dan menampilkannya dengan harmonis dalam ruang kota;
  • menyediakan ruang yang luas bagi kehidupan budaya, yang memungkinkan perkembangan kehidupan budaya yang dinamis dan semarak;
  • mencegah perkembangan fisik dan ekonomi yang berdampak negatif pada budaya masyarakat;
  • selalu aktif berupaya meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat yang adil dan beradab dalam suasana yang harmonis;
  • memberi kemudahan bagi kelompok marginal dan handicapped agar dapat mengembangkan kehidupan yang layak bersama warga masyarakat lainnya;
  • mengembangkan integrasi dan menghidari segregasi/eksklusivitas diantara kelompok-kelompok masyarakat.

Butir-butir tersebut dapat dijelaskan dan diuraikan lebih lanjut disertai kaitannya kedepan dan kebelakang.. Dapat diamati beberapa kota yang sudah mencoba menerapkan beberapa dari butir-butir tersebut. Dapat diamati faktor-faktor yang melatarbelakangi sukses atau kegagalan disana.. Dapat diamati seberapa jauh butir-butir tersebut dilahat oleh masyarakat sebagai prioritas.

Diusulkan untuk menggarap suatu action reserach di satu atau dua kota kecil  dimana bersama warga dicoba menganalisis, merencanakan, dan menerapkan beberapa opsi menuju tercapainya harapan tersebut diatas. Kegiatan ini akan menyertakan ahli-ahli perencanaan fisik, ekonomi, dan sosial budaya. Temuan-temuan disini akan menjadi masukan yang sangat bermanfaat untuk memperjelas kerangka yang lebih besar.

Kegiatan ini sekaligus merupakan upaya menerobos tembok-tembok sektoral yang sekarang begitu kokoh menghalangi kerjasama dan kerja bersama. Pengalaman menunjukkan bahwa upaya menerobos tembok-tembok ini lebih mudah dilakuka melalui kerja bersama di lapangan dibandingkan dengan upaya formal pembahasan dalam rapat kedinasan yang kaku.

Sangat dianjurkan untuk melakukan kajian terapan ini dalam waktu dekat agar kita dapat maju pada langkah-langkah berikutnya dengan lebih jelas.

Biasanya ada jarak yang terlalu panjang, sampai bertahun-tahun,  antara ide dan penetapan kebjakan, serta antara saat penetapan kebjakan dengan waktu pelaksanaannya secara nyata di lapangan.

 

 

Category: Uncategorized  | Tags: ,  | Leave a Comment
Wednesday, October 08th, 2008 | Author: suhadi
di jalandi jalan
di pasar

di pasar

  

di gedung kesenian

di gedung kesenian

 

     di candidi candi

di sekolahdi sekolah

 

di rumah
di rumah
di taman

di taman

di mall

di mall

 

 PERKEMBANGAN KOTA

UNTUK PENGEMBANGAN KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA

 

Jika kita membahas pembangunan

kita banyak sekali berbicara tentang pembangunan prasarana dan pembangunan ekonomi

kita kurang membahas tentang pembangunan sosial dan budaya

 

Jika kita berbicara tentang  keberlanjutan atau sustainability

kita banyak berbicara tentang environmental sustainability dan economic sustainability

kita jarang sekali membicarakan social and cultural sustainability

 

Jika kita  berbicara tentang keserasian atau harmoni

kita banyak berbicara tentang  harmoni dalam lingkungan dan kehidupan ekonomi

kita tidak banyak membahas keserasian sosial dan budaya

 

Jika kita bicara tentang kota idaman atau rencana perkembangan

kita segera bicara tentang permukiman, sarana bisnis, industri, jaringan jalan

kita segera bicara tentang pertumbuhan ekonomi, investasi, produksi, dan pendapatan

kita jarang (tidak pernah) bicara tentang dinamika kehidupan sosial-budaya.

 

Kota bukan hanya tempat tidur dan tempat mencari nafkah

kota adalah ruang kehidupan tempat manusia dan keluarga membina kehidupannya

membangun masa depan yang lebih berkualitas

yang juga mencakup perbaikan sosial serta dinamika dan kegairahan kehidupan budaya

 

Para perencana banyak mengolah angka-angka statistik serta perhitungan kebutuhan permukiman,

air, listrik, transportasi, kawasan industri, perdagangan dsb

dibahas upaya menarik investasi, meningkatkan produktivitas, mengatur perpajakan dsb

tetapi jarang dibahas harapan pengembangan sosial budaya warga kotanya

 

Semua sependapat bahwa merancang dan mendorong perkembangan sosial budaya

tidak sama dengan membangun rumah dan jalan-jembatan

dan jauh lebih kompleks daripada membangun industri dan perdagangan

tidak berarti karena kompleks dan sulit, pembangunan sosial-budaya tidak perlu digarap

 

Jika ingin membangun manusia seutuhnya, pembangunan itu harus utuh dan bulat,

yang mencakup pembangunan fisik, ekonomi, dan sosial budaya

semua pembangunan juga harus menghasilkan kualitas,

kualitas keluaran maupun kualitas dampak dan manfaatnya bagi masyarakat luas.

 

Diperlukan integrasi dan sinergi antara pembangunan fisik, ekonomi, dan sosial-budaya

kegiatan masing-masing sektor juga harus memperhatikan sebab-akibat antara ketiganya

memperhatikan potensi ketiganya, kebutuhan ketiganya, dan dampak ketiganya

dinding pembatas birokrasi antar sektor perlu dibuka berangsur-angsur.

 

Jika kita akan memasuki Gelombang ke-empat yang berbasis pada kekuatan budaya

apakah itu terbatas pada pengembangan industri kreatif untuk manfaat ekonomi?

bagaimana dengan tataruang dan perkembangan kota?

apa yang harus disiapkan dalam penataan ruang dan perkembangan kota ?

 

Kota harus mampu mendorong kehidupan sosial-budaya yang dinamis dan kreatif

kota harus memperhatikan kebutuhan ruang dan sarana sosial-budaya

kota harus mampu membina dan memanfaatkan potensi sosial-budaya

kota harus mampu mengisi ruang-ruang dengan kehdupan sosial-budaya yang semarak

 

Bagaimana kita mengembangkan ini?

mari kita kaji dan garap bersama, dengan menanggalkan kotak-kotak pembatas

dengan semangat baru

keluar dari siklus rutin ”doing business as usual”

 

suhadi.

Category: Uncategorized  | Tags: , ,  | Leave a Comment