Thursday, June 04th, 2009 | Author: suhadi

Berbagai bangsa dan suku bangsa mempunyai masa keemasan dimana mereka menghasilkan puncak-puncak karya dan pemikiran yang istimewa. Masa keemasan itu berlangsung singkat jika ia hanya ditopang oleh beberapa elit yang jenius, tetapi ia berlangsung lama jika didukung oleh kekuatan masyarakat luas secara menyeluruh.

 

Dahulu kita sering mendengar tentang “Puncak-Puncak Kebudayaan” yang sangat dibanggakan sebagai karya adhiluhung yang hampir disakralkan. Puncak kebudayaan di masa keemasan itu sering digambarkan sebagai karya-karya monumental seperti piramida di Mesir, Taj Mahal di India, Tembok Besar di Tiongkok, candi-candi besar, istana megah, tarian keraton, karya pujangga, dan sebagainya. 

 

Sebetulnya puncak-puncak itu tidak berdiri mengambang di ruang hampa. Puncak-puncak itu berdiri diatas lapisan dasar yang kuat berupa kekuatan budaya masyarakat luas yang memungkinkan terbangunnya ruang yang kondusif untuk berkembangnya budaya yang kuat. Tanpa lapisan dasar yang kuat itu tidak akan mungkin terlahir puncak-puncak yang monumental oleh para jenius..

 

Masyarakat itu sendiri juga bertumpu pada bentang alam dengan karakter lingkungannya yang spesifik yang mempengaruhi warna kehidupan masyarakatnya. Ada pengaruh timbal balik yang sangat kuat antara alam dan masyarakatnya. Karena itu puncak-puncak kebudayaan yang terbentuk itu juga sangat dipengaruhi oleh kondisi alamnya serta pola pikir dan sikap manusia menanggapi alamnya.

 

Dengan kata-kata yang agak berbeda dari catatan Pak Eka, saya ingin menggambarkan masa keemasan itu sebagai suatu masa dimana berkembang masyarakat berbudi luhur, dinamis, kreatif, dengan pemikiran unggul dan achievement (pencapaian) istimewa berupa karya-karya yang menembus ruang dan waktu. Tanpa membatasi diri pada karya-karya monumental, kita perlu memberi penghargaan pada pencapaian berbagai lapisan masyarakat

 

Sekarang para ahli menggarisbawahi pentingnya kita menghargai karya-karya berbagai lapisan masyarakat. Tidak hanya karya monumental seperti candi  dan istana yang megah,  tetapi juga permukiman tradisional, tari rakyat, musik rakyat, seni kriya, tradisi lisan, dan berbagai karya masyarakat biasa yang hidup di masyarakat. Bukan hanya produknya tetapi juga proses dan pelakunya merupakan asset yang berharga.

 

 

Sejalan dengan perkembangan umat manusia, kehidupan budaya itu juga terus berkembang dam berubah, Ada yang disebabkan dinamika internal di dalam masyarakatnya, ada pula yang disebabkan pengaruh timbal balik dari pergaulan antar bangsa dan antar suku bangsa. Budaya Jawa tahun 2000 tentu berbeda dengan tahun 1500, tahun 1000. dan seterusnya, masing-masing dengan cirinya tersendiri.

 

Kita tidak bisa mengatakan bahwa yang diakui mewakili budaya Jawa misalnya adalah yang ada pada tahun 1500. Kita tidak bisa mengatakan bahwa budaya Jawa yang asli adalah yang ada pada tahun 1500. Mana yang asli dan tidak asli mungkin tidak perlu terlalu dikejar karena selalu terjadi pergaulan antar etnis dan saling mempengaruhi antar budaya. Dalam pencarian itu kita juga perlu menyadari bahwa suatu bangsa/suku bangsa tidak homogen dalam gambaran seprti puncak-puncak itu. Dalam bangsa/suku bangsa itu masih terdapat keragaman yang lebih luas lagi.

 

Dalam pergeseran budaya dari masa ke masa, berbagai perubahan itu tidak harus selalu kita lihat sebagai “devisasi” yang negatif. Kita harus meneliti puncak-puncak dan situasi budaya  tetapi bukan untuk mencari bentuk mana yang dapat dijadikan contoh. Kita perlu meneliti dan memelihara karya-karya istimewa itu untuk dapat memahami kearifan di dalamnya, dan menyerap apa yang dapat kita manfaatkan ke masa depan.

 

Kita tidak hanya melihat bentuk fisik gaya bangunannya. Lebih penting lagi kita melihat budaya sebagai totalitas cipta, rasa, karsa, dan karya masyarakat pada waktu itu.Kita tidak hanya melihat wajah dan bentuk hidung seseorang, tetapi lebih pada bagaimana karakter, sikap, dan perilakunya. Karakter inilah yang sangat menarik dan penting untuk diteliti, Contoh-contoh yang istimewa itu kita sebut Pusaka, dan harus kita lestarikan untuk generasi mendatang. Penataan ruang harus dapat melindungi pusaka yang sangat berharga itu, tetapi penataan ruang tidak dapat memaksakan bentuk-bentuk fisik masa lalu seutuhnya dikembalikan pada masa kini  yang mempunyai situasi, kebutuhan dan tantangan yang berbeda. 

suhadi (posting di milis referensi&yahoo.com 4 juni 2009)
Tags: ,
Category: Uncategorized
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply